“Akal” dan “Pikiran” dalam Khasanah Filsafat dan Budaya
Orang-Orang Timur (Baca: Budha dan Islam)

 oleh

Soeprano Effendi dan Wim Permana
wimkhan@yahoo.com
http://wimpermana.web.ugm.ac.id/blog
Jurusan Ilmu Komputer
Universitas Gadjah Mada

Pembahasan mengenai judul di atas akan kami awali dengan pemaknaan dan uraian akal dan pikiran melalui Al-Qur’an. Hal ini kami lakukan atas dasar pemahaman bahwa meskipun “timur” itu tidak berarti “islam” dan “islam” itu sendiri juga bukan merupakan “timur”, namun fakta menunjukkan bahwa para pemikir-pemikir yang berasal dari timur, khususnya yang berasal dari tanah arab umumnya melandasi ataupun memulai kajian akal dan pikiran mereka berbasiskan dengan apa-apa yang sudah termaktub di dalam Al-Qur’an.

Selain mengambil pemikiran para pemikir islam, uraian ini juga akan mengangkat khasanah pemikiran Sidharta Budha Gautama. Ini tidak lepas dari pengaruh pemikiran atau filsafat Budha yang sangat mashyur, khususnya di Benua Asia.

Demikian pengantar uraian singkat kami mengenai judul di atas. Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh dari dunia timur yang layak diangkat di dalam tulisan ini (baca: di luar Budha dan Islam). Namun mengingat kami berdua hanya fokus dengan agama yang telah kami anut masing-masing maka tulisan ini hanya akan menyajikan pemikiran yang berasal dari tokoh-tokoh dengan latar agama yang sama dengan agama yang kami anut, yakni Budha (Soeprano Effendi) dan Islam (Wim Permana).

1. Akal dan Pikiran dalam Al-Qur’an

Kata dan makna “akal” pada masa pra-islam
Pada masa pra-islam, akal hanya berarti kecerdasan praktis yang ditunjukkan seseorang dalam situasi yang berubah-ubah. Akal sangat berkaitan dengan pemecahan masalah. Oleh karena itu, ia bersifat praktis. Tok! Seorang ‘aqli menurut tradisi arab pra-islam adalah dia yang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan jalan keluar dalam situasi apa pun juga.

Kata dan makna “akal” pada masa pasca-islam (Al-Qur’an)

Dalam Al-Qur’an, kata akal (’aql) disebut 49 kali dalam 28 surah: 31 kali dalam surah makkiyah (turun di Kota Mekkah) dan 18 kali dalam surah madaniyah (turun di Kota Madinah).

Akal memiliki makna yang sangat padat dalam Al-Qur’an. Dalam perbendaharaan kata umat islam, akal memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Sehingga barang siapa yang sampai tidak memiliki akal akan dianggap tidak laik untuk beribadah. Dari segi ibadah, ia sangat erat kaitannya dengan kesadaran.

Menurut Qurais Shihab, Al-Qur’an menggunakan kata itu untuk “sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus ke dalam kesalahan atau dosa”. Dengan menelusuri ayat yang menggunakan akar kata ‘aql, sesuatu dalam konteks di atas dapat dimaknai:

  1. Daya untuk memahami sesuatu (QS Al-Ankabut [29]: 43)
  2. Dorongan moral (QS Al-An’am [6]: 151)
  3. Daya untuk mengambil pelajaran, hikmah, dan kesimpulan (QS Al-Mulk [67]: 10).

Kata dan makna “pikiran” pada dalam Al-Qur’an

Kata “pikir” dan “pakar” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab fikr yang dalam Al-Qur’an menggunakan istilah fakkara dan tafakkarun. Kata fikr menurut Quraish Shihab diambil dari kata fark yang dalam bentuk faraka dapat berarti:

  1. mengorek sehingga apa yang dikorek itu muncul
  2. menumbuk sampai hancur, dan
  3. menyikat (pakaian) sehingga kotorannya hilang.

Baik kata fikr maupun kata fark memiliki makna yang serupa. Bedanya, fikr digunakan untuk hal-hal yang konkret. Larangan berpikir tentang Tuhan adalah sebuah contoh tentang objek fikr. Dari makna dasar fikr itu terkandung makna yang sangat dalam menyangkut usaha serius, giat, dan tak kenal lelah untuk mengelaborasi, atau bahkan mencari sampai pada bagian terdalam dari alam semesta, sehingga dapat ditemukan hakikat alam semesta itu sendiri. Para ahli yang meneliti materi-materi terkecil dari sesuatu sehingga didapatlah apa yang sekarang disebut atom, neutron, elektron, proton, dan quark adalah beberapa contohnya.

Salah satu bentuk berfikir adalah tafakur. Kata ini memiliki makna yang sangat mendalam. Salah satunya adalah bahwa tafakur merupakan cermin yang akan memperlihatkan kepada seseorang perihal kebaikan dan keburukannya. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, tafakur merupakan kegiatan yang paling utama dan bermanfaat.

2. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Budha

Menurut ajaran Budha, “pikiran” -pikiran yang benar- termasuk ke dalam Delapan Jalan Utama yang dapat membawa kita ke jalan menuju lenyapnya Dukkha (Penderitaan). Menurut Budha, pikiran benar yang dimaksud tersebut adalah pikiran yang terbebas dari nafsu-nafsu keduniawian, bebas dari kebencian, dan bebas dari kekejaman.

3. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Farabi

Akal memiliki posisi yang sangat tinggi dalam pemikiran Al-Farabi. Filsuf asal Turki yang terkenal dengan filsafat emanasi (Al-Faid: Pancaran) ini menganggap bahwa Tuhan berhubungan dengan ciptaannya dengan perantara akal dan malaikat.

4. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Kindi

Menurut Al-Kindi, satu-satunya filsuf berkebangsaan Arab dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat penting dan tinggi dalam pencarian kebenaran. Bagi Al-Kindi, akal termasuk salah satu alat yang dibutuhkan untuk mencari kebenaran yang hakiki dalam kehidupan, di samping agama dan argumen-argumen rasional.

5. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Ibnu Rusyd

Akal menurut Ibnu Rusyd merupakan sesuatu yang memiliki posisi yang sangat tinggi. Seorang peneliti barat bernama Phillip K. Hitti pernah berujar bahwa Ibnu Rusyd adalah seorang rasionalis, dan menyatakan berhak menundukkan segala sesuatu kepada pertimbangan akal, kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan. Tetapi ia bukanlah seorang free thinker (pemikir bebas) atau seorang yang tidak beriman.

6. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Dr. Haidar Bagir

Akal adalah rasul dalam diri manusia. Sementara Rasul adalah akal di luar manusia. Begitu ucapan beliau dalam sebuah wawancara dengan kontributor JIL (Jaringan Islam Liberal). Menurut beliau lagi, sesungguhnya wahyu yang dibawa oleh para Rasul itu membawa kita ke satu titik yang akal juga bisa membawa kepadanya. Fungsi wahyu adalah untuk mengisi tempat-tempat di mana agama percaya itu berada di luar batasan manusia.

7. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Ibnu Sina

Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia hanya mempunyai satu daya, yaitu berfikir yang disebut akal. Akal menurutnya lagi terbagi dua:

  1. Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang.
  2. Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat.

Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedang akal teoritis kepada alam metafisik. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu. Akal praktis, kalau terpengaruh oleh materi, tidak meneruskan arti-arti, yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang, ke akal teoritis. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik.Akal teoritis mempunyai empat tingkatan:

  1. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni.
  2. Akal bakat, yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni.
  3. Akal aktual, yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni.
  4. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni.

Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf.

8.Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Ghazali

Akal menurut Al-Ghazali bukanlah sesuatu yang sangat tinggi kedudukannya. Menurut beliau, adalah al-dzauq dan ma’rifat sufilah yang justru akan membawa seseorang kepada kebenaran yang meyakinkan. Pendapat ini beliau cantumkan dalam kitabnya yang terus menjadi perdebatan hingga sekarang, yakni tahafut al falasifah (kerancuan filsafat). Pemikiran Al-Ghazali ini, konon sangat mempengaruhi dunia islam saat itu. Bahkan banyak juga para pengamat dunia islam yang menganggap bahwa buku dan pengaruh Al-Ghazali inilah yang membuat islam terpuruk dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan sampai hari ini.

9. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Yusuf Al-Qardhawi

Akal adalah sesuatu yang sangat berharga dalam diri manusia. Kemunculan kata akal dalam Al-Qur’an yang bersifat istifham inkari (pertanyaan retoris) bermaksud untuk memotivasi, memberi semangat, dan mendorong manusia untuk menggunakan akalnya.

10. Akal dan Pikiran dalam Filsafat Al-Asy’ari

  1. Dalam teologi Al-Asy’ari akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy’ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis.
  2. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Manusia di sini bersikap statis.
  3. Pemikiran teologi al-Asy’ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini, tak terdapat, yang ada ialah kebiasaan alam. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan.

Terima Kasih